Pesmol Ikan Baung Ala Ibuku

Serupa dengan ikan acar bumbu kuning yang pernah saya posting disini Ikan Panggang kuah Kuning, Pesmol ini masakan dari Sunda Jawa Barat dengan menggunakan kuah sedikit lebih kental, sedikit pedas dan asam serta ada aroma samar kencur. Tapi Ibuku masak pesmol Ikan ini nggak pernah pakai kencur. Bumbu kuah kuningnya dibuat pekat dan kental dan selalu menggunakan ikan sungai. Mungkin karena kami hidup dengan Sungai Musi membelah kotanya. sehingga ikan sungai lebih mudah ditemui dalam kondisi segar. Dahulu lebih sering menggunakan ikan lais. Tak ada Lais ikan baungpun jadi atau gunakan ikan favoritmu lainnya seperti gurame, nila atau patin. Ikan segar dengan bumbu pesmol tanpa kencur ini dijamin enak dan sehat dengan kandungan gizi yang lengkap. 

Tinggal lama di Jakarta dari kecil hingga dewasa, dan memiliki saudara Ipar orang Sunda membuat ibu terbiasa mencicipi masakan sunda dalam kesahariannya. Ibu menyukai memakan dan masak sayur mayur sebagaimana kebiasaannya sejak kecil, hanya saja ayah saya tidak menyukai sayur dan lebih menyukai masakan dengan kuah santan. Ibu yang tipikal penurut dan nerimo, lama-kelamaan mengikuti selera ayah. Saya masih ingat betul, masakan ibu seperti sate ikan dengan potongan kubis adalah salah satu favorit saya. Ayah yang baru pulang dari pasar, dan disajikan masakan dengan potongan sayur dalam lauk makan akan sedikit "naik darah".๐Ÿ˜‘ Mungkin karena kejadian seperti itu berulang, ibu lama kelamaan mengikuti selera ayah. Menghilangkan daftar sayur dalam masakannya, dan hanya makan lauk, nasi dan sesuatu yang mengandung santan seperti kare, gulai dll.๐Ÿ˜”

Mungkin ibu tahu selera ayah, sekilas pesmol ikan ini seperti menggunakan santan. Dengan kuah kuning kemerahan mirip seperti kare india, atau gulai. Sehingga sering memasak  pesmol ikan ini sebagai lauk makan anak-anaknya. Tipikal orang Sumatera memang suka masakan bersantan, minim sayur dan makan-makanan berupa daging. Mungkin itu penyebabnya gampang naik darah๐Ÿ˜….Kecuali orang tersebut telah merantau. Baru terbuka pikiran dan wawasannya. Itu sebabnya agama menganjurkan agar manusia merantau. Tapaki dunia luar dan kenali diri dan jati dirimu sendiri. Agar kelak tahu dunia luar sehingga tidak seperti katak dalam tempurung. Merasa diri paling hebat, padahal tak lebih dari seujung kuku di mata Allah dan dengan fondasi agama yang kuat akan seperti jangkar kapal yang menarik diri saat  tak sesuai tuntunan agama. 

Mempunyai anak satu, saya baru belajar tentang ilmu parenting dan berdamai dengan innerchild saya. Innerchil ini benar-benar mempengaruhi saya dalam berbuat dan mendidik anak saya. Saya tahu tak boleh memukul, menampar atau bahkan meninggikan suara dan kalah pada tangisan anak saya saat keinginannya tidak terpenuhi. Tapi kalau kamu punya innerchild yang salah, dan ingin mengakhiri rantai buruk parenting di dirimu saja, mau tak mau kamu harus berusaha mencacah dirimu sendiri. Jadi sambil mendidih anak saya, saya juga mendidik diri saya sendiri. Menurut para ahli seperti Ibu Elly Risman yang sering saya ikuti kulwapnya mengatakan bahwa parenting is like a wiring. Asal kata adalah wire /kawat. Saat kita mengasuh dan membesarkan anak, kita tidak hanya membesarkan, namun membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Pengalaman itu akan anak kita bawa sampai dia dewasa dan kelak di warisankan ke anak cucu kita. Kalaulah tahu salah, apakah kita tega meneruskannya dan mewariskannya?

Saya tahu itu tak mudah, bahkan kadang air mata ini mengalir dengan deras sangat teringat dengan innerchild yang bermasalah. Memaafkan dengan tulus ikhlas adalah kuncinya yang masyaallah ternyata tak mudah. Kadang capek, kadang buru-buru,kadang sejuta alasan lainnya sehingga tamparan yang berpuluh-puluh tahun yang lampau sudah tak sakit lagi, masih terasa sangat sakit dihati. Meninggalkan goresan innerchild saya yang terluka. Kata orang waktu menyembuhkan luka ?, kalau lukanya di hati?. Kadang kalau lagi melihat anak tertidur pulas, lalu teringat dengan masa kecilku. Apa salahku dulu ya, sampai cambukkan ikat pinggang mendarat di badan, atau apa ucapkan yang dahulu salah hingga sebuah tamparan melayang di pipi?.Apa menjadi seorang ayah itu cuma cukup memberi nafkah saja, tak bisakah ikut membesarkan dan mendidik  anak-anaknya? 

Walau sosok ayah yang melekat di ingatan saya adalah sosok yang pemarah, namun ayahlah yang mengantarkan saya sekolah saat kami pindah rumah ke daerah lemabang, sedangkan sekolah saya di plaju. Yang mengharuskan saya mengganti angkut 2kali hanya untuk sekolah SD diusia saya yang menginjak 9 tahun. Ayah memastikan di pagi hari saya telah naik angkut plaju dan ayah lantas berjualan di pasar 16 ilir. Dan itu berlangsung selama 1 tahun, hingga akhirnya dikelas 4 SD saya pindah sekolah. Makanya saya paling takut membuat ayah marah, kalau ibu sudah ngadu ke ayah, artinya sikap saya kelewatan. Dan biasanya ibu saya nggak pernah mengadu, tapi ntah kenapa ayah selalu tahu kalau kami membuat ulah.

Ayahku tak tamat SD, syukur masih bisa membaca dan berhitung yang menjadi dasar beliau dalam berjualan di pasar. Mulai dari cabe, ayam, ikan hias, sembako, dan terakhir daging sapi telah dilakukan ayah selama hidupnya. Ayahku tidak mengenal apa itu ilmu parenting. Sejak kecil Ibunya (Nyaing) seorang orangtuanya karena Kakek telah meninggal dunia sejak masih kecil. Mungkin ayah yang tak kenal sosok ayah, tak bisa berperan selayaknya ayah pada umumnya. Tapi Alhamdulillah seiring dengan berjalannya waktu, ayah sangat dekat dengan cucunya (thiya dan cucu lainnya)

Alhamdulillah Allah sayang sama saya. Saat saya dianugrahi seorang putri, yang darinya saya belajar banyak hal. Sejak thiya lahir saya minta agar suami tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah ,tapi juga pendidik anak kami. Kalau cuma mencari nafkah, saya juga bisa๐Ÿ˜. Thiya harus merasakan kasih sayang orang tuanya utuh. Baik ibu dan Ayahnya. Saya tak mau pengalaman berayah ada,beribu tiada terulang padanya. Innerchild buruk harus berakhir di saya saja.

Thiya mengajari kami banyak hal. Mengajariku arti kesabaran yang sesungguhnya. Saat mata mengantuk dan anak minta diajar bermain. Atau saat sedang enak-enaknya makan lalu dia bilang bunda mau pup. Dan dari dialah saya belajar arti konsistensi. Menyusui full 2 tahun, sambil tiap hari pumping itu tak mudah, namun saya tetap berusaha. Subhanallah. Mengajari kenapa Surga itu dibawah telapak kaki ibu dan betapa Ibuku telah berpayah payah membesarkan kami. 

Maafkah curhatnya kepanjangan. Blog inilah penyalur stress dan terapi saya. Mungkin saat masa sedih seperti sekarang berlalu saya akan sangat malu menceritakan "aib" keluarga. But Its ok. Saya tidak mengenal pembaca saya, dan mungkin juga tak ada yang baca๐Ÿ˜œ. Bagi yang hanya mencari resepnya saja, silahkan skip curhat diatas. Hehehe. Oh ya ikan baungnya saya panggang agar lebih sehat. Kalau mau di goreng silahkan saja. Ibu saya biasanya juga digoreng dan ini resepnya 

Pesmol Ikan Baung ala Ibuku

Bahan 
500 gram ikan baung - bisa ganti dengan ikan gurame,nila,mas ataupun ikan lainnya (Disiangi dan di cuci bersih perutnya, kucuri dengan air jeruk nipis)
1 sdt garam
150 ml air
1 buah tomat
3 buah belimbing wuluh

Bumbu halus
5 pcs cabe merah keriting  ( Tambahkan jika suka pedas dengan cabai rawit_saya membuang bijinya agar anak saya bisa makan)
3 siung bawang putih
5 siung bawang merah
4 pcs kemiri (sangrai agar tidak langu)
1 ruas kunyit (Bakar sebentar, saya 1 sdt kunyit bubuk)
1 ruas jahe (keruk kulitnya)
1 sdt garam
sejumput gula (pengganti micin)

Bahan lainnya* (Bersifat optional, anda bisa gunakan untuk menambah aroma/ kepedasan)
5 pcs cabe rawit merah utuh (optional, tambah jika suka pedas)
1 ruas (5 cm) lengkuas ( Memarkan )
Daun salam 2   lembar
Daun jeruk 4 lembar (sobek kasar)
1 batang serai (memarkan ikat simpul)
Daun pisang secukupnya  ( layukan diatas kompor, potong sesuai kebutuhan)

Cara membuat :

  1. Bersihkan ikan  dan darah yang terperangkap di sela -sela tulang perut ikan, buang insangnya, kucuri dengan jeruk nipis. Bilas .Beri 1 sdt garam, tabur dan sebarkan merata
    .
  2. Siapkan panggangan. Alasi dengan daun pisang/daun kunyit/daun lengkuas atau skip jika teflon anda antilengket. Panggang ikan hingga matang ( Saya menjalankan 2 kompor, satu untuk memanggang dan satunya untuk membuat bumbu. Saat ikan telah matang, masukkan ke bumbunya). Jika ingin di goreng silahkan juga
  3. Blender bumbu halus dengan sedikit air. Tumis hingga harum. Tambahkan lengkuas, daun salam dan serai , cabai rawit (jika pakai) dan daun jeruk.  
  4. Tambahkan potongan tomat dan belimbing wuluh. Tambahkan air. Masukkan ikan. Siram kuah ke ikan. Kecilkan api, masak hingga minyak ikan pindah kekuah dan bumbu meresap ke ikan serta air menyusut
  5. Masak sekitar 1 menit agar sedap bumbu meresap, tambahkan garam dan gula. Koreksi rasa. Angkat dan sajikan
Selamat mencoba The Secret Ingredient Is Always Love Denia Kitchen

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke sini dan mau meninggalkan komentar manis atau pertanyaan di sini. Komentar promosi produk dan jualan tidak akan saya tampilkan ya, begitu juga dengan nama URL yang saru. Dan untuk yang berkomentar anonymous mohon cantumkan nama ya biar saya tahu yang berkomentar siapa kan enak jadi bisa panggil mas atau mba. Terima kasih.