Burgo - Rice Noodles With White coconuts Milk Palembang Style

Burgo berbahan baku tepung beras dan disantap dengan kuah santan ini menjadi makanan khas Palembang yang sangat saya sukai. Serupa dengan Cheng Fun yang dari medan. Kalau cheng fun menggunakan topping gurih dari minyak wijen, jahe, daun bawang  ataupun ebi. Burgo menggunakan kuah santan berwarna putih yang berasal dari bumbu kemiri. dengan kuah kaldu udang atau ikan Rasanya sangatlah sedap dan istimewa


Burgo yang merupakan masakan peranakan etnis tionghua ini, saya yakin merupakan modifiaksi dari Cheng Fun, atau kwetiau. Namun berpadu dengan citarasa lokal berupa kuah santan. Seperti kuliner palembang lainnya laksan dan celimpungan yang menggunakan kuah santan, begitupun burgo ini. Biaasanya untuk menambah rasa ditambahkan gilingan daging ikan gabus, tetapi ibu saya suka sekali menggunakan udang kecil yang dihaluskan. Saya terbiasa menyantap kuah burgo dengan udang halus pada kuahnya sehingga di resep ini pun saya menggunakan udang. Tetapi sekali waktu, ibu juga pernah menggunakan ebi halus sebagai penyedapnya. Tentu saja kami lebih menyukai dengan udang, tapi tak ada rotan akar pun jadi bukan. Dan anak-anaknya pun bisa sekolah dengan perut kenyang. 

Untuk membuat burgo bisa menggunakan 2 cara yaitu menggunakan sebagian air mendidih, ataupun seluruhnya air dingin. Semuanya ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk yang menggunakan air dingin semuanya. Setiap kali menuang adonan beras ke dalam loyang ,kita harus mengaduk-aduk sampai rata dan sesering mungkin. Tidak mengaduknya sering-sering, akan menyebabkan adonan tidak menyatu sempurna dan itu berarti kemungkinan tepung beras mengendap sangat tinggi, sehingga akan menyebabkan burgo menjadi retak-retak pada bagian atasnya dan sulit digulung. Untuk pemula seperti saya, cara ini sangat saya hindari. Tetapi bibi saya yang memang jualan lebih menyukai cara ini dibandingkan dengan cara yang kedua. 

Untuk cara kedua adalah menggunakan sebagian air mendidih. Dengan cara ini, tepung beras akan berikat dengan air secara sempurna, sehingga kita tidak perlu sering-sering mengaduk sisa adonan selama proses pengukusan burgo. Kelemahannya adalah adanya bintik-bintik /brintilan tepung yang tidak larut sempurna dalam air dingin. Tetapi cara ini bisa diatas dengan memblendernya dengan juicer. Ataupun menyaringnya. Di resep berikut ini saya menggunakan cara kedua. Karena sudah cocok di saya. Semua kembali ke selera masing-masing

Kuah burgo yang tidak menggunakan cabai seperti halnya Laksan, maka untuk dinikmati akan ada sambal cenge di sampingnya. Menu rice noodle ini menjadi favorit bagi yang menginginkan makanan gluten free bagi buah hatinya. Teman saya yang mengharuskan anaknya diet gluten, suka menyajikan burgo untuk buah hatinya, tetapi kuah santan di ganti dengan susu. Enakya homemade kita bisa mix and match sesuai dengan kebutuhan keluarga. Buah hati alergi  susu sapi, bisa diganti dengna susu almond, susu kedelai atau jenis susu yang lainnya. 

Bibi saya sudah sangat terbiasa membuat burgo ini, jadi gampang saja baginya membuat untuk ratusan orang dalam sekali buat. Waktu saya menikah, beliaulah yang mengurusi urusan makanan keluarga. Tidak menggunakan kukusan, melainkan hanya kuali dan loyang persegi. Jadi saja tuh burgo. Mungkin terbiasa membantu nyai (nenek saya atau ibunya) sewaktu masih berjualan. Membuat burgo segampang membalikkan telapak tangan, tak ada istilah lengket di loyang atau pecah-pecah. Buatannya 100 % sempurna. Wkwkwk. Kalau saya yang buat 2 loyang pertama akan lengket. Baru selanjutnya bagus. Tapi kalau bicek (sebutan untuk bibi saya) nggak loh. Heran saya. Wkwkwk. Membuat burgopun nggak pakai timbang -timbangan seperti saya, adonan masuk dan dia tambahin saja sagunya pakai feeling dan pasti jadi dengan tekstur kenyal dan lentur. Sekali pegang saja dia bisa tahu. Ini kurang air, ini kebanyakan tepung beras atau sagu. Salutt. Ini resepnya ya dari bicek dan ibu saya. 

Kalau di pakai untuk jualan, burgo dijual dalam keadaan memanjang, baru dipotong saat akan disajikan  di piring saji. Karena saya untuk makan sendiri, begitu burgo matang, langsung diletakkan di piring dan dipotong-potong. Biasanya burgo dijual hangat, karena itu kuahnya biasanya selalu berada di atas kompor kecil (sekarang), dahulu sih nyai suka menjajakannya dan dibawa dengan keranjang bersama dengan nampah diatas kepala. Jaman dulu bersama dengan jajanan pasar. Nyai saya (nenek) menjual burgo dan anekan jajanan pasar di daerah pasar 16 ilir demi membesarkan anak-anaknya, paska yai meninggal dunia. Jadi untuk makanan satu ini, saya sudah terbiasa makan sedari kecil. Mungkin sambil ngasuh anak, ibu saja juga bantui nyai jualan. Wkwkw. Nostalgianya kepanjangan, ini resepnya ya

Burgo - Rice Noodles With White Coconuts Milk Palembang Style 


Untuk 2 piring/porsi 
Bahan
125 gram tepung beras
25 gram sagu/tapioca
125 air mendidih
225 -250 air biasa (air suhu ruang)
1sdt garam
1/2 sdt kaldu jamur/penyedap rasa (optional)

Bahan Kuah
500 ml santan sedang
100 gram udang tanpa kulit
1 batang serai (geprek, ikat simpul)
2 daun salam
2 cm lengkuas (geprek)
2 sdt garam
1 sdt kaldu jamur/penyedap rasa (optional)

Bumbu halus kuah
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
4 pcs kemiri (sangrai)

Cara membuat

Burgo (Rice Noodles)

  1. Didihkan air, masukkan tepung beras ke dalam wadah lalu tuang air mendidih. Aduk cepat. 
  2. Tambahkan garam dan penyedap rasa (jika pakai), aduk rata
  3. Tambahkan sagu (Tunggu hangat baru tambahkan sagu) , dan air biasa, aduk hingga encer dan larut semua. Bila perlu saring
  4. Siapkan dandang, panaskan air. Oles loyang dengan minyak sayur. Tuang sekitar 2 -3 centong sayur kecil, lalu ratakan (sesuaikan dengan besarnya loyang).
  5. Kukus hingga matang ,sekitar  5 -8 menit
  6. Gunakan spatula, gulung , tata dipiring, potong -potong.

Kuah 

  1. Blender bumbu halus hingga benar-benar halus
  2. Tumis bumbu hingga harum, dengan blender tadi masukkan udang tanpa kulit dan blender. 
  3. Masukkan udang giling , tambahkan santan dan bahan lainnya seperti lengkuas, daun salam, batang sereh dll. masak hingga mendidih 
  4. Koreksi rasanya. Beri garam dan sesuaikan asinnya dengan selera 
  5. Sajikan

Selamat mencoba The Secret Ingredient Is Always Love Denia Kitchen

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke sini dan mau meninggalkan komentar manis atau pertanyaan di sini. Komentar promosi produk dan jualan tidak akan saya tampilkan ya, begitu juga dengan nama URL yang saru. Dan untuk yang berkomentar anonymous mohon cantumkan nama ya biar saya tahu yang berkomentar siapa kan enak jadi bisa panggil mas atau mba. Terima kasih.