Mari Mengenal 7 Bahan Pengawet Makanan di Sekitarmu!

Era milenia saat ini , makanan instan dengan segala bahan pengawet yang menyertainya telah merambah tidak saja resto ternama, jajanan kaki lima tapi juga telah masuk hingga ke dapur kita. Cobalah sesekali lihat bahan di dapur kita adakah yang tidak  mengandung Penguat Rasa (Monosodium Glutamat, Dinatrium Inosianat dan Guanilat), Perisa dan Pengatur Keasaman. Kesemua bahan pengawet tersebut ada di bumbu instan (Bumbu rendang, ayam,opor,lodeh, kari instan, santan kemasan dll), Kaldu instan, ataupun saus tomat atau sambal  baik kesemua bahan pengawetnya ataupun sebagian saja.  

Tidak adanya bukti ilmiah zat pengawet sebagai biang keladi dari maraknya penyakit kanker  tidak berarti kita harus menerima begitu saja iklan dan promosi dari para industri makanan kemasan. Kesehatan keluarga, diri sendiri ada di tangan kita. Terlebih jika memiliki anak kecil yang alergi ataupun sedang menjalani diet dari semua pengawet (anak autis misalnya), ataupun merawat orang tua yang pantang terhadap natrium/sodium berlebih dalam makanan yang di konsumsi ( penderita darah tinggi). Sudah sewajarnya kita berusaha untuk menghindarkan dan mendidik anak kita agar tetap mengedepankan pola hidup sehat dan mengontrol asupan natrium dalam tubuh kita. Untuk bisa mendidik generasi masa depan akan pentingnya pola hidup sehat selalu dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari dapur rumah kita sendiri. Sebisa mungkin jika homemade bisa dilakukan, buat sendiri saja makanan itu. Selagi bisa. 

Saya mengetik ini, saat mendengar bu Ami Yudhoyono sakit kanker darah. Begitupun anak denada (penyanyi favorit saya dl), setiap melihat berita adanya survivor kanker, hati ini sedih sekali. Semoga bu Ani dan para penderita kanker diberi kesembuhan serta di gugurkan dosanya dan saya serta kita semua terhindar dari penyakit mematikan ini (aamin). Menurut dokter penyebab kanker disebabkan oleh Makanan pengawet, Hereditas (keturunan), Pola hidup tak sehat, Penyimpangan gen /kromoson karena uji coba nuklir lewat pancaran sinar radioaktif (era ini telah berlalu sepertinya) tetapi kekhawatiran adanya kebocoran nuklir di jepang  dahulu tetap perlu diwaspadai. Tuntutan hidup yang serba cepat dan instan telah membawa sebagian besar masyarakat mudah sekali mengkonsumsi makanan tak sehat, junkfood, makanan kemasan instan dan aktivitas gerak yang terbatas seperti kurangnya olahraga, kemudahan transportasi online yang mengakibatkan malas nya orang berjalan kaki serta aktifitas fisik lainnya yang berkurang seiring dengan kemajuan teknologi.

Di sela sempitnya waktu, baik karena sibuk ataupun banyaknya aktivitas di pagi hari, membuat pilihan akan bumbu masakan praktis menjadi pilihan. Apalagi ada banyak ragam bumbu masakan dalam kuliner nusantara sehingga saat akan memasak opor, rendang atau kari bahkan lodeh sekalipun kepraktisan bumbu siap pakai menjadi incaran. Itu sebabnya bumbu instan siap pakai di produksi massal tidak hanya oleh industry besar seperti Unilever, Indofood tetapi juga UMKM. Semua produsen mengklaim produknya bebas dari bahan pengawet, tapi benarkah? Saya jadi ingat sewaktu magang ke salah satu Perusahaan mie terbesar di Indonesia. CSR nya bilang produk nya tanpa pengawet , padahal di kemasan jelas jelas tertulis mengandung TBHQ. Kami yang adalah mahasiswa Teknik kimia senyum sajalah. daripada nggak di ijinkan magang iyakan.

Para pakar medis telah menginfirmasi bahwa merupakan sesuatu yang vital bagi kesehatan untuk menjaga rasio potassium /kalium dan sodium/natrium yang berimbang dalam menu makan kita. Rasio potassium dan Sodium yang sempurna adalah 5 : 1, tetapi sayangnya kebanyakan orang memiliki rasio 1:2 yang artinya kita mengkonsumsi dua kali lebih banyak sodium daripada potassium. Berkat pola hidup modern yang cepat, kita lebih banyak mengonsumsi makanan olahan, sehingga asupan garam lebih tinggi dan asupan potassiumnya mengerut.

Rasio potassium-Sodium yang kacau dapat berujung pada tingginya tekanan darah, penyakit jantung bahkan stroke. Hanya 5 % dari asupan orang amerika yang bersumber dari penabur garam, 95 % berasal dari sodium yang tersembunyi dari makanan olahan. Untuk Orang Indonesia, saya sendiri tidak mengetahuinya. Tetapi melihat begitu cepat lagi modernisasi dan menjamurnya makanan olahan, pelan tapi pasti makanan kitapun akan ikut terpolarisasi.

Bahan pengawet adalah zat atau bahan kimia yang ditambahkan ke dalam produk seperti makanan, minuman, obat-obatan, cat, sampel biologis, kosmetik, kayu, dan produk lainnya untuk mencegah terjadinya dekomposisi yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan mikroba atau oleh perubahan kimiawi. Secara umum, pengawetan dilakukan melalui dua cara, yaitu secara kimiawi atau fisik. Pengawetan kimiawi melibatkan penambahan senyawa kimia ke dalam produk. Pengawetan fisik melibatkan berbagai proses seperti pembekuan atau pengeringan. Simak ulasan tentang Frozen food sebagai cara pengawetan zaman now yang telah saya posting sebelumnya disini

Bahan pengawet aditif makanan mengurangi risiko keracunan makanan, mengurangi paparan mikroba, dan mempertahankan kesegaran serta kualitas nutrisi produk tersebut. Beberapa teknik fisik untuk mengawetkan makanan di antaranya dehidrasi, radiasi UV-C, pengering-bekuan, dan pembekuan. Teknik pengawetan kimiawi dan fisik terkadang dikombinasikan.

Zat pengawet  pada Makanan Instan (Bumbu, Penyedap rasa, Saus, dan makanan olahan lainnya) biasanya telah tertulis di kemasan produk dan penggunaan nya sesuai dengan regulasi yang diijinkan oleh Pemerintah negara tersebut. Kesemuanya kembali lagi ke konsumen, tubuh kita mengijinkan ambang batas berapa persen dalam menampung zat pengawet tersebut. Kita tidak bicara tentang chemical berbahaya  tetapi di pakai di makanan seperti borak dan formalin. Karena 2 zat tersebut memang telah dilarang dalam makanan olahan. Di Postingan saya ini kita hanya akan berbicara tentang bahan pengawet, pengemulsi, penstabil makanan yang pemakaiannya diijinkan dalam kadar tertentu dan diatur regulasinya. Yang selalu jadi pertanyaan dan benak saya adalah berapa sih kadar yang diijinkan tubuh saya? Yang "batas-batas tertentunya" setiap orang berbeda-beda dan tidak semua orang menakarnya bukan. Karena sekali lagi zat tersebut tersembunyi di setiap produk yang kita makan. Berikut ini daftar zat pengawet yang umumnya ada di makanan olahan kita dan aman/food grade tetapi selagi bisa dihindari hindari saja yaitu.

1. STTP (Sodium Tripoli Phospat)
STPP  yang berupa serbuk putih merupakan  pengawet untuk makanan laut, daging, unggas, dan pakan ternak. Umum dalam produksi makanan seperti nomor E E451 . Dalam makanan, STPP digunakan sebagai pengemulsi dan untuk mempertahankan kelembaban. Pemerintah setempat mengatur jumlah yang diperbolehkan dalam makanan, karena secara substansial dapat meningkatkan berat penjualan makanan laut pada khususnya. Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat mencantumkan STPP sebagai " secara umum diakui aman" alias food grade ."
Foto ikan hanya pemanis, saya nggak tahu dikasih STTP atau nggak. Tapi kalau sudah pakai ES BATU ngapain pakai STTP lagi kan?
STTP yang larut dalam air akan digunakan untuk merendam daging laut seperti fillet ikan, dan makanan laut lainnya. Penggunaan STTP di makanan laut akan meningkatkan kelembaban daging ikan karena kemampuan STTP untuk mengikat air di tubuh ikan seperti daging sapi gelonggong dan jika kita membeli makanan laut tersebut , kita akan membayar "kelebihan air" yang terikat pada ikan. Alasan keuntungan lagi bukan?. Oleh karena itu cermatlah dalam membeli. Selalu membeli makanan di tempat-tempat yang kita yakini kualitas dan  kejujuran penjualnya. 

Dalam makanan olahan beberapa produsen menambahkan STTP pada bakso, pempek dan makanan olahan ikan lainnya. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan tekstur dan umur simpan produk

2. Natrium Benzoat
Natrium benzoat rumusnya NaC7H5O2. Digunakan sebagai pengawet makanan dengan nomor E E211. Merupakan garam natrium dari asam benzoat. Senyawa ini dapat diproduksi dengan mereaksikan natrium hidroksida dengan asam benzoat. Asam benzoat ada secara alami dalam jumlah kecil di kranberi, prune, kayu manis, cengkih, dan apel

Zat ini diketahui mampu memperpanjang umur  dalam makanan asam seperti selai, saus salad, jus, acar, minuman berkarbonasi, dan kecap. Zat ini diketahui dapat memperpanjang umur simpan pasta tomat selama 40 minggu tanpa kehilangan kualitas. Konsumsi natrium benzoat  dapat menyebabkan hiperaktivitas. Selama lebih dari 30 tahun, telah terjadi perdebatan tentang apakah benar atau tidak pengawet dan bahan tambahan makanan lainnya dapat menyebabkan hiperaktivitas. Penelitian telah menemukan bahwa mungkin ada kenaikan hiperaktivitas di antara anak-anak yang mengkonsumsi pewarna buatan dan bahan pengawet benzoat dan yang sudah secara genetika cenderung hiperaktif, tetapi studi ini tidak sepenuhnya konklusif. Hiperaktivitas hanya meningkat dalam taraf yang sedang, serta tidak adanya kesimpulan apakah pengawet, pewarna, atau kombinasi dari keduanya yang bertanggung jawab atas peningkatan hiperaktivitas tersebut.

3. Monosodium Glutamat /MSG
Selama lebih dari 100 tahun MSG telah dikenal luas untuk meningkatkan rasa, menciptakan rasa baru yang lebih dikenal dengan sebutan "umami". Produsen makanan industri memasarkan dan menggunakan MSG sebagai penguat cita rasa karena zat ini mampu menyeimbangkan, menyatukan, dan menyempurnakan persepsi total rasa lainnya. Nama dagang untuk monosodium glutamat termasuk diantaranya AJI-NO-MOTO®, Vetsin, dan Ac'cent.

MSG murni sendiri bercitarasa sedikit pahit dan tidak enak di makan jika tidak dikombinasikan dengan rasa gurih pada makanan. Sebagai pemberi cita rasa dan dalam jumlah yang tepat, MSG memiliki kemampuan untuk memperkuat senyawa aktif rasa lainnya, menyeimbangkan, dan menyempurnakan rasa keseluruhan pada masakan tertentu. MSG tercampur dengan baik dengan daging, ikan, daging unggas, berbagai sayuran, saus, sup, dan marinade,kaldu, dan aneka makanan olahan lainnya.

4. Dinatrium Guanilat

Merupakan garam dari penyedap rasa  quanosin monophospat (GMP), digunakan sebagai senyawa MSG. Biasanya terdapat pada keripik kentang ,kecap, bumbu instan rendang opor, kari dll bersama dengan dinatrium inosinat, atau kombinasi keduanya dan dikenal dengan nama dinatrium 5'-ribonukleotida.

5. Dinatrium Inosinat
Dinatrium inosinat  adalah garam natrium asam inosinat dengan rumus kimia C10H11N4Na2O8P, yang digunakan sebagai aditif makanan dan sering ditemukan dalam mi instan, keripik kentang dan berbagai jenis makanan ringan lainnya (kecap,saus sambal, saus tomat, keju dll)

6. TBHQ / tert -Butylhydroquinone
Dalam makanan, TBHQ digunakan sebagai pengawet untuk lemak. Baik minyak nabati./ hewani. Penambahan TBHQ menambah umur simpan  dan tidak menyebabkan bahan yang ditambahi mengalami perubahan warna , rasa dan bau (tengik). TBHQ terdapat pada mie instan dan aneka produk olahan yang menggunakan lemak /minyak. TBHQ sering digunakan dengan aditif lain seperti propil galat, butylated hydroxyanisole (BHA), dan butylated hydroxytoluene (BHT). BHA dan TBHQ biasanya dibahas bersama, karena bahan kimia terkait erat: TBHQ terbentuk ketika tubuh memetabolisme BHA.

Pelaksana Died ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) percaya bahwa TBHQ adalah salah satu zat adifit yang harus dihindari karena mempengaruhi perilaku manusia.

7. Natrium Nitrit dan Nitrat
Kedua senyawa ini di pakai dalam pengawetan daging dan turunannya. Walau keduanya untuk daging, keduanya tidaklah sama. Natrium nitrit adalah pengawet yang digunakan dalam daging, daging giling ham, sosis, hot dog, dan daging babi asap untuk mencegah botulisme. Zat ini melayani fungsi penting untuk mengendalikan bakteri yang menyebabkan botulisme (kekakuan otot), namun natrium nitrit dapat bereaksi dengan protein, atau selama makanan dimasak pada suhu yang tinggi, membentuk N-nitrosamin karsinogenik. Penambahan zat ini untuk mempertahankan warna daging tetap merah , tidak mengalami perubahan warna karena oksidasi seperti pada kornet, daging giling dll.

Natrium nitrit berbentuk bubuk kristal putih sampai agak kekuningandan, sangat larut dalam air dan bersifat higroskopik (menyerap air). Sodium nitrit dikenal karena perannya dalam menghambat pertumbuhan spora Clostridium botulinum pada daging yang didinginkan dan dianggap tidak efektif untuk mengendalikan patogen enterik gram negatif seperti Salmonella dan Escherichia coli. Selain itu juga natrium nitrit dapat memberi rasa dan warna pada daging serta menghambat oksidasi lipid yang menyebabkan tengik

Natrium Nitrat berbentuk padatan berwarna putih dan sangat larut dalam air. Sodium/ Natrium nitrat juga merupakan aditif makanan yang digunakan sebagai pengawet dan pengawet warna pada daging dan unggas yang diawetkan; terdaftar di bawah nomor INS 251 atau E number E251. Itu disetujui untuk digunakan di UE, dan Australia dan Selandia Baru.

Ayah saya,yang adalah pedagang daging sering mengeluh tentang daging yang berwarna kecokelatan jika tidak laku dijual setelah dipotong dihari yang sama walau di simpan di freezer di es. Daging sapi tersebut esoknya dijual dengan harga yang lebih murah dan itu merugikan pedagang. Apalagi harga pokok daging lebih mahal dari keuntungan yang di dapat. Sehingga atas dasar inilah, ayah memilih untuk tidak menjual daging sapi dan lebih memilih menjual krecek, tulang ataupun jeroan. Saya yang waktu itu masih kuliah lantas menjelaskan tentang asam nitrat dan nitrit ini, yang kebetulan dijual bebas di pasaran. Semula ayah sangat semangat, namun takkala dijelaskan tentang bahaya karsinogenik jika di masak. Ayahpun takut merugikan konsumen lantas enggan mencobanya.  Alhamdulillah walau ayah tidak mengenal "bangku sekolah", kejujurannya untuk tidak merugikan pembelinya dan takut sama "dosa" membuat diri ini bangga padanya.

Secara historis, garam telah digunakan untuk pengawetan daging. Produk daging yang diawetkan dengan garam biasanya berwarna abu-abu kecoklatan. Ketika natrium nitrit ditambahkan dengan garam, daging berkembang menjadi warna merah, kemudian merah muda jika di olah dan menambah rasa. Aditif makanan lainnya yang bisa melindungi daging dari bakteri adalah asam laktan dan sorbat namun tidak memberikan efek warna merah muda pada daging. Sehingga jarang dipakai.

Karsinogenisitas adalah kemampuan atau kecenderungan bahan kimia untuk menginduksi tumor, meningkatkan insidensi atau keganasannya, atau mempersingkat waktu terjadinya tumor. Salah satu alasan mengapa daging olahan meningkatkan risiko kanker adalah kandungan nitratnya. Sejumlah kecil nitrat yang ditambahkan ke daging sebagai pengawet terurai menjadi nitrit, selain nitrit yang juga dapat ditambahkan. Nitrit kemudian bereaksi dengan makanan kaya protein (seperti daging) untuk menghasilkan NOC karsinogenik ( senyawa nitroso ). NOC dapat dibentuk baik ketika daging dimasak atau di dalam tubuh saat daging dicerna

Demikianlah 7 bahan pengawet makanan di sekitar kita. Selalu baca ingredient pada kemasan. Jaga selalu kesehatan keluarga dengan menjaga pola makan dan berolahraga secara teratur

Semoga bermanfaat


Sumber
STTP Wikipedia
Mononatrium Glutamat Wikipedia
Sodium Nitrate Wikipedia
Sodium Nitrite Wikipedia
Semoga bermanfaat The Secret Ingredient Is Always Love Denia Kitchen

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke sini dan mau meninggalkan komentar manis atau pertanyaan di sini. Komentar promosi produk dan jualan tidak akan saya tampilkan ya, begitu juga dengan nama URL yang saru. Dan untuk yang berkomentar anonymous mohon cantumkan nama ya biar saya tahu yang berkomentar siapa kan enak jadi bisa panggil mas atau mba. Terima kasih.