Pindang Pegagan (Pindang Ikan) Khas Sumatera Selatan

Alhamdulillah saya mempunyai Ibu mertua yang baik sekali. Mama saya ini tak pernah membedakan perlakuan antara saya (menantunya) dengan anak perempuan dia sendiri. Dari beliau ( Semoga Allah selalu memberinya kesehatan) saya belajar banyak hal. Terutama di saat - saat tersulit saya. Sejak saya menikah dengan anak nya, saya tidak terlalu dekat dekat beliau (Papa dan Mama mertua saya). Karena selain jarak memisahkan kami, beliau juga tak bisa berlama - lama berbincang bincang lewat telepon. Bagi mereka telepon berbicara seperlunya saja. maka setiap menelopon beliau baik saya dan suami tak lebih dari 5 menit. Sangat berbeda dengan keluarga saya yang jika bertelepon bisa lebih dari 1 jam.

Saat saya melahirkan secara caesar karena ketuban saya habis dan anak saya di vonis sepsis oleh dokter, dan  lingkungan keluarga Ibu dan Ayah saya tidak memungkinkan untuk kondisi putri kami, sehingga saya terpaksa tinggal di rumah mertua dan suami kembali bekerja di Lampung. Jika di kira melahirkan secara caesar itu enak. itu Salah. Dengan semuanya dikerjakan sendiri, sekedar berdiri pasca operasi saya tak bisa. Jangankan mengurus bayi, sekedar ke kamar mandipun saya harus di bantu. Di saat itu mertua saya hadir menolong saya, mengajari saya memandikan bayi, memasang bedong, mengurus cuci mencuci. Tugas saya selama 40 hari itu hanya menyusui Thiya. 

Tinggal selama 2 bulan bersama Papa Mama membuat lidah dan selera makan saya berubah. Saya mengerti seperti apa citarasa dan masakan keluarga suami. Saya belajar menghadirkan makanan sederhana namun enak di lidah dan menghadirkan citarasa masakan mama pada dapur kecil saya. 

Mama saya berasal dari Ulak Pati, sebuah kecamatan di Pampangan Sumatera Selatan. Sebagai penduduk yang bermukim di pinggiran Sungai Musi, keluarga mama biasa mengolah ikan patin, baung atau gabus untuk di olah menjadi Sup / Pindang khas Ulak Pati. Baru di kemudian hari saya menyadari Pindang Ikan khas mama mertua saya lebih dikenal dengan nama Pindang Pegagan. 

Pindang pegagan merupakan masakan khas suku Pegagan, sub suku Ogan.  Suku Pegagan adalah suatu suku yang bermukim di kelurahan Tanjung Raja Barat kabupaten Ogan Ilir provinsi Sumatra Selatan. Pemukiman suku Pegagan terdapat juga di kecamatan SP Padang, kecamatan Jejawi, kecamatan Kayuagung, kecamatan Pampangan dan kecamatan Pangkalan Lampam yang semuanya juga berada di kabupaten Ogan Komering Ilir. Suku ini bermukim di pesisir aliran Sungai Musi yang menjadi habitat ikan-ikan Patin, Baung dan Gabus. Ikan-ikan itu menjadi bahan utama resep tradisional pindang pegagan yang mempunyai ciri khas tersendiri.Kuliner ini menjadi salah satu yang terfavorit di Palembang. Kuahnya yang pedas sedikit asam dengan warna sedikit kemerah-merahan disajikan dengan ikan yang empuk. Ditambah aroma terasi dan asam jawa yang khas menjadikannya lebih nikmat. Apalagi kalau disajikan dengan nasi hangat dan sambal terasi serta lalapan-lalapan hijau.

Jika Pembaca melihat kuah pindang ikan saya agak kekuningan dan tidak berwarna merah, hal itu karena saya tidak menghaluskan caba merah sepedas biasanya. Thiya biasa nya suka menghirup kuah pindang. Sehingga masakan Pindang ikan kali ini saya cabai merah pada resep di buang biji nya. Perbedaan Pindang pegagan dan pindang meranjat adalah di bumbu dapur. Pindang pegagan tidak menggunakan bumbu jahe, kunyit yang biasanya di tambahkan pada sup pindang meranjat. 

Jika diperhatikan ikan yang saya gunakan campuran ikan patin dan baung. Anak saya suka patin tetepi tidak suami saya. Daripada memasak 2 jenis ikan  secara terpisah, lebih baik saya satukannya. Ikan tersebut telah 2 hari di chiller dari pada tak bisa di olah, lebih baik di masak berbarengan saja. 

Bagi Pembaca yang ingin menghadirkan Pindang Pegagan ala Mama saya, silahkan di coba resep ini 

Pindang Pegagan (Pindang Ikan) Khas Sumatera Selatan 

resep  dari mama  mertua saya



untuk 2 porsi

Bahan : 

Ikan Patin / Baung 300 gram (saya menggunakan kedua nya)
4 tangkai kemangi potong potong
1/2 buah nanas, potong - potong
1sdt garam
350 ml air 

Bumbu halus 
Cabe merah 7 buah ( saya 2 buah dan di buang biji nya tambahkan jika suka pedas)
5 siung bawang merah
terasi 1 1/2 sdt
1/4 blok asam jawa/ 1 sdm asam jawa larutkan dengan 6 sdm air


Cara membuat 

Bersihkan ikan patin dan darah yang terperangkap di sela -sela tulang perut ikan, kucuri dengan jeruk nipis. dan simpan di kulkas selama mempersiapkan bumbu halus. 
Campurkan bumbu halus ke dalam panci tambahkan air, masak sampai air mendidih, masukkan ikan sungai (Patin /baung) masak sampai ikan lunak (10 menit) , tambahkan potongan nanas, air asam jawa, terasi dan kemangi. tambahkan garam. Koreksi rasanya. Siap di hidangkan


Memakan Pindang Ikan Khas Pegagan ini di temani sambal embem (kweeni) dengan lalapan hijau bikin makan siang nambah 

Semoga suka dan bermanfaat 


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke sini dan mau meninggalkan komentar manis atau pertanyaan di sini. Komentar promosi produk dan jualan tidak akan saya tampilkan ya, begitu juga dengan nama URL yang saru. Dan untuk yang berkomentar anonymous mohon cantumkan nama ya biar saya tahu yang berkomentar siapa kan enak jadi bisa panggil mas atau mba. Terima kasih.